Tolong Klik Disini Untuk Membantu Saya Membeli Roti Setiap Harinya!

PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK

PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK ( PPOK )

Pengertian

Penyakit Paru Obstruksi Kronik [PPOK] adalah penyakit paru dengan terjadinya sumbatan aliran udara pada paru yang berlangsung lama. Dalam istilah Inggrisnya dikenal sebagai Chronic Obstructive Pulmonary Disease [COPD].

Normalnya, saat kita bernapas, udara akan masuk melalui hidung atau mulut, melalui tenggorokan, trakea, bronchus [cabang trachea, mengandung lendir dan cilia yang berfungsi untuk proses pembersihan udara], bronchiolus [cabang bronchus], dan kemudian ke alveoli [kantung-kantung udara di paru]. Setelah itu terjadi pertukaran antara oksigen dan carbon dioksida. Oksigen akan diserap ke dalam pembuluh darah, sedangkan carbon dioksida akan dikeluarkan melalui saluran napas.

Gejala PPOK
  1. Sesak napas.
  2. Batuk menahun.
  3. Batuk berdahak.
Namun pada kasus yang ringan tidak menimbulkan gejala apapun. Beberapa ciri dari PPOK yaitu : biasanya dialami oleh perokok berat, gejala muncul pada usia 40-an, gejala semakin lama semakin bertambah buruk, gejala memburuk pada musim hujan/dingin, dan tidak ada hubungannya dengan alergi.

Jenis PPOK

2 jenis PPOK, yaitu :
  1. Bronchitis Chronic.
  2. Emphysema.







    Pada bronchitis chronic terjadi peradangan pada dinding saluran napas sehingga menghasilkan terlalu banyak lendir. Akibatnya saluran napas menyempit sehingga pertukaran udara di paru terganggu. Pada bronchitis chronic juga terjadi kerusakan pada cilia yang berfungsi untuk membersihkan lendir berlebihan dalam saluran napas. Pada emphysema, terjadi pembesaran dan kerusakan luas alveoli, sehingga terjadi gangguan pertukaran udara dalam paru.

    Penegakan Diagnosis 

    mencakup pemeriksaan anamnesis [pola hidup-riwayat merokok, riwayat penyakit keluarga, keluhan yang dialami, dsb], pemeriksaan fisik [pada saluran napas dan jantung], dan pemeriksaan penunjang [pemeriksaan laboratorium, rontgen dada, dan test fungsi paru].

    Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ini :
    • Berhenti merokok, dapat memperlambat proses perburukan penyakit, mencegah komplikasi, dan memperpanjang harapan hidup.
    • Latihan pernapasan [pursed-lip breathing dan diaphragmatic breathing]. Pursed-lip breathing : duduk tegak dengan otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. Hembuskan napas secara perlahan melalui mulut Anda [dengan gerakan seperti meniup lilin] selama 4 hitungan atau lebih. Diaphragmatic breathing : duduk atau berbaring dalam posisi nyaman dengan kepala bersandar dan lutut ditekuk. Otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. Tempatkan salah satu tangan di ulu hati dan tangan lainnya di dada. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. Lalukan dengan cara yang benar sampai Anda merasakan otot ulu hati dalam keadaan rileks dan mengembang dan posisi dada tidak berubah. Kencangkan otot ulu hati dan hembuskan napas melalui mulut 4 hitungan. Anda akan merasa otot ulu hati mengempis.
    • Perkusi dada, untuk membantu mengeluarkan dahak/lendir yang berlebihan dari paru. Dengan cara : rapatkan kelima jari tangan Anda membentuk mangkuk lalu tepuk-tepuk dada dan punggung [dengan atau tanpa bantuan orang lain] secara lembut.
    • Olahraga, pilih yang mampu Anda lakukan, misal berjalan, bersepeda, berenang, dsb.
    • Mempertahankan berat badan ideal.
    • Minum banyak air untuk membantu mengencerkan dahak.
    • Konsumsi cukup protein [daging dan produk susu], buah, dan sayuran.
    Bila Anda telah mengalami penyakit ini, segeralah memeriksakan diri ke dokter secara teratur. Dengan menjalani pengobatan secara teratur dan melakukan perubahan perilaku, Anda masih mempunyai kesempatan untuk hidup lebih sehat dan bugar.
    Yoedhas Flyingdutchman


    Penyakit Paru Obstruktif Kronis

    Saat ini telah disadari lebih luas bahwa pajanan pekerjaan tertentu dapat menjadi penyebab pembatasan aliran udara yang irreversibel akibat bronkitis kronis atau emfisema. Merokok adalah faktor pembias utama dalam studi kelompok pekerja. Keadaan ini juga dapat disebabkan asma akibat,kerja dan
    sindrotn disfungsi salmon udara reaktif yang tnenetap dan kronis.
    Agens penyebab/pekerjaan berisiko
    Telah banyak dibuktikan bahwa penambang batu bara dan penambang batu karang memiliki risiko. Pekerja yang terpajan debu organik seperti debu kapas, debu padi, dan debu kayu adalah pekerja lain yang berisiko. Pada mereka yang masih hidup setelah terpajan berat terhadap klorin, amonia, sulfur dioksida juga berisiko. Bahan iritan lain yang terlibat termasuk toluen diisosianat, asap diesel, kromium, natrium hidroksida, dan aldehida. Masih banyak terjadi pertentangan mengenai hal ini dengan perhatian pada banyak pajanan lain. Pengecor logam dilaporkan mempunyai risiko yang lebih tinggi terhadap bronkitis kronis.
    Gambaran klinis
    Keluhan utama biasanya dimulai dengan batuk dan produksi sputum, bertahan atau kumat kembali setelah jangka waktu tertentu. Kemudian akan terjadi dispnoe saat beraktivitas yang dapat progresif. Pada pemeriksaan fisik mungkin terdapat krepitasi atau ronki pada paru. Tes fungsi paru menunjukkan pengurangan nilai FEV1 dan rasio FEV1/FVC yang tidak reversibel dengan bronkodilator. Pemeriksaan rontgen paru biasanya normal dan dapat menunjukkan perubahan emfisematous, yaitu diafragma rata dan tertekan serta area radiolusen termasuk bula atau bleb.
    Diagnosis
    Walaupun diagnosis bronkitis kronis atau emfisema dapat jelas bagi dokter, tapi hubungan dengan pajanan pada pekerjaan mungkin sukar ditentukan dan dibiarkan terbukti sendiri, terutama bagi perokok berat. Hubungan sebab-akibat sementara sukar diinterpretasikan. Oleh karena itu, penyakit ini secara umum merupakan penyakit akibat kerja yang tidak dapat diberikan ganti rugi, tidak seperti penyakit akibat kerja yang telah dibahas sebelumnya. Riwayat pekerjaan merupakan kunci untuk mencari kaitan penyakit obstruksi saluran napas kronik yang diamati dengan pajanan dalam pekerjaan tertentu pada pekerjaan saat ini atau pekerjaan sebelumnya.
    Tatalaksana
    Selain pengobatan medis, biasanya bermanfaat bagi pasien seperti ini untuk menghindari bahan iritan yang merangsang batuk dan produksi sputum seperti mengisap rokok dan pajanan terhadap pekerjaan yang terkait.
    Daftar Pustaka
    BA Praktik Kedokteran Kerja ed 1 Oleh J. Jeyaratnam & David Koh


    PPOK/COPD / Penyakit Paru Obstruksi Kronik

     

    Penyakit Paru Obstruksi Kronik [PPOK] adalah penyakit paru dengan terjadinya sumbatan aliran udara pada paru yang berlangsung lama. Dalam istilah Inggrisnya dikenal sebagai Chronic Obstructive Pulmonary Disease [COPD]. 

    Normalnya, saat kita bernapas, udara akan masuk melalui hidung atau mulut, melalui tenggorokan, trakea, bronchus [cabang trachea, mengandung lendir dan cilia yang berfungsi untuk proses pembersihan udara], bronchiolus [cabang bronchus], dan kemudian ke alveoli [kantung-kantung udara di paru]. Setelah itu terjadi pertukaran antara oksigen dan carbon dioksida. Oksigen akan diserap ke dalam pembuluh darah, sedangkan carbon dioksida akan dikeluarkan melalui saluran napas.

    PPOK mempunyai 3 gejala umum utama, yaitu : sesak napas, batuk menahun, dan batuk berdahak. Namun pada kasus yang ringan tidak menimbulkan gejala apapun. Beberapa ciri dari PPOK yaitu : biasanya dialami oleh perokok berat, gejala muncul pada usia 40-an, gejala semakin lama semakin bertambah buruk, gejala memburuk pada musim hujan/dingin, dan tidak ada hubungannya dengan alergi.

    Terdapat 2 jenis PPOK, yaitu Bronchitis Chronic dan Emphysema. Pada bronchitis chronic terjadi peradangan pada dinding saluran napas sehingga menghasilkan terlalu banyak lendir. Akibatnya saluran napas menyempit sehingga pertukaran udara di paru terganggu. Pada bronchitis chronic juga terjadi kerusakan pada cilia yang berfungsi untuk membersihkan lendir berlebihan dalam saluran napas. Pada emphysema, terjadi pembesaran dan kerusakan luas alveoli, sehingga terjadi gangguan pertukaran udara dalam paru.

    Penegakan diagnosis dari PPOK mencakup pemeriksaan anamnesis [pola hidup-riwayat merokok, riwayat penyakit keluarga, keluhan yang dialami, dsb], pemeriksaan fisik [pada saluran napas dan jantung], dan pemeriksaan penunjang [pemeriksaan laboratorium, rontgen dada, dan test fungsi paru].

    Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ini :
    [1] Berhenti merokok, dapat memperlambat proses perburukan penyakit, mencegah komplikasi, dan memperpanjang harapan hidup.
    [2] Latihan pernapasan [pursed-lip breathing dan diaphragmatic breathing]. Pursed-lip breathing : duduk tegak dengan otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. Hembuskan napas secara perlahan melalui mulut Anda [dengan gerakan seperti meniup lilin] selama 4 hitungan atau lebih. Diaphragmatic breathing : duduk atau berbaring dalam posisi nyaman dengan kepala bersandar dan lutut ditekuk. Otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. Tempatkan salah satu tangan di uluhati dan tangan lainnya di dada. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. Lalukan dengan cara yang benar sampai Anda merasakan otot uluhati dalam keadaan rileks dan mengembang dan posisi dada tidak berubah. Kencangkan otot uluhati dan hembuskan napas melalui mulut 4 hitungan. Anda akan merasa otot uluhati mengempis.
    [3] Perkusi dada, untuk membantu mengeluarakan dahak/lendir yang berlebihan dari paru. Dengan cara : rapatkan kelima jari tangan Anda membentuk mangkuk lalu tepuk-tepuk dada dan punggung [dengan atau tanpa bantuan orang lain] secara lembut.
    [4] Olahraga, pilih yang mampu Anda lakukan, misal berjalan, bersepeda, berenang, dsb.
    [5] Mempertahankan berat badan ideal.
    [6] Minum banyak air untuk membantu mengencerkan dahak.
    [7] Konsumsi cukup protein [daging dan produk susu], buah, dan sayuran.

    Bila Anda telah mengalami penyakit ini, segeralah memeriksaan diri ke dokter secara teratur. Dengan menjalani pengobatan secara teratur dan melakukan perubahan perilaku, Anda masih mempunyai kesempatan untuk hidup lebih sehat dan bugar.



    Emfisema adalah jenis penyakit paru obstruktif kronik yang melibatkan kerusakan pada kantung udara (alveoli) di paru-paru. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan oksigen yang diperlukan. Emfisema membuat penderita sulit bernafas. Penderita mengalami batuk kronis dan sesak napas. Penyebab paling umum adalah merokok.
    Gejalanya:
    Gejala Emfisema ringan semakin bertambah buruk selama penyakit
    terus berlangsung. Gejala-gejala emfisema antara lain:
    - Sesak napas
    Sesak napas, hampir setiap orang pernah menderita sesak napas baik tua muda bahkan anak-anak. Penyebab sesak napas sangat beragam, dan bila tidak diatasi dengan segera akan menyebabkan ketidaknyamanan bahkan kematian.
    - Mengi
    Saat mengi menyerang, jangankan untuk berjalan untuk bernafaspun sulitnya bukan main. Apalagi jika ditambah dengan batuk, sangat tidak menyenangkan. Tips kali ini bisa dikatakan sebagai tips alternatif buat Anda yang memiliki Mengi.
    - Sesak dada
    Gejala lain yang dialami ketika seseorang terserang penyakit jantung adalah rasa nyeri yang hebat pada bagian dada yang disertai muntah
    materi referensi:
    - Mengurangi kapasitas untuk kegiatan fisik
    - Batuk kronis
    Batuk kronis adalah batuk yang tidak menghilang. Batuk kronis sendirinya bukan penyakit; agaknya ia adalah gejala dari penyakit-penyakit lain. Ia adalah persoalan yang umum dan sebab untuk banyaknya kunjungan-kunjungan ke dokter.
    - Kehilangan nafsu makan dan berat
    - Kelelahan
    Kelelahan adalah salah satu dari dua cara utama tubuh mengingatkan bahwa kita mempunyai persoalan. Cara lain adalah rasa nyeri. Kita biasanya memperhatikan rasa nyeri atau sakit, dan menghentikan apa yang jadi penyebabnya. Namun kita tidak memperhatikan kelelahan sama seperti rasa nyeri. Satu alasan kelelahan menjadi semakin buruk secara pelan-pelan, jadi kita tidak memperhatikannya.

    Artikel Setengah Baya Lainnya:

    • Kurangi Garam Agar Panjang Umur
      Garam adalah salah satu unsur yang dibutuhkan dalam setiap masakan karena fungsinya sebagai pemberi rasa. Tapi kita juga mengetahui terlalu banyak men...
    • Kesehatan Tulang
      Mengkonsumsi Berkarbonasi Tidak Akan Membuat Rapuh Tulang. Mengkonsumsi Sparkling Beverages (Minuman berkarbonasi) tidak akan membuat rapuh tulang at...
    • Manjurnya Wortel Untuk Kesehatan Mata
      Anggapan yang selama ini beredar mengenai wortel dan kesehatan mata ada benar tapi juga ada salahnya. Mampukah wortel membantu meningkatkan penglihata...
    • Menghilangkan Jerawat Dengan Lidah Buaya
      Tips Kesehatan mengatasi atau menghilangkan jerawat ini saya beri catatan sedikit yang berkaitan dengan parah tidaknya jerawat yang mampir di pipi and...
    • Kelelahan
      Kelelahan adalah keluhan yang umum terjadi. Kelelahan berbeda dengan mengantuk, kelelahan lebih pada fenomena kekurangan energi. Ada beberapa penyebab...

    5 Artikel Kesehatan Terbaru

    RSSInfo Kesehatan Terbaru

     Kata Kunci SetengahBaya.info

    Local Blogging Network

    • Dokter Umum Tanya jawab seputar masalah kedokteran dan kesehatan
    • Gossip Selebritis Gossip Terhangat, Berita dan Informasi Terbaru Seputar Dunia Selebritis
    • Ibu Bayi Portal informasi untuk kesehatan ibu, bayi dan anak Indonesia
    • Info Kedokteran Pusat informasi kedokteran dan artikel kesehatan terlengkap
    • Info Kedokteran Gigi Pusat informasi kedokteran gigi dan mulut


    Health

    PPOK: Penyakit Paru Obstruksi Kronis
    Written by Iskandar Bakrie/Morina   
    Saturday, 30 January 2010 23:08
    Foto: IstimewaFoto: IstimewaPenyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah penyakit paru kronis yang disertai gangguan aliran napas. Gangguan ini biasanya disebabkan bronchitis kronis atau emfisema paru. Hambatan pada saluran napas dapat bersifat progresif sehingga gejala menjadi lebih berat.
    PPOK merupakan penyakit yang sering dijumpai pada orang berusia lanjut. Penyakit ini memang erat hubungannya dengan kebiasaan merokok dan polusi udara. Gejala PPOK adalah sesak napas dan batuk. Batuk biasanya disertai dahak cukup banyak. Gejala penyakit dan pemeriksaaan fisik disertai dengan pemeriksaan fungsi paru dapat menjuruskan dokter untuk mendiagnosis PPOK.
    Pemeriksaan paru dengan alat spirometerdapat juga membedakan PPOK menjadi PPOK ringan, sedang dan berat.
    Tuduhan klasik gara-gara rokok. [Foto: Istimewa]Tuduhan klasik gara-gara rokok. [Foto: Istimewa]Pada PPOK mudah terjadi komplikasi infeksi. Karena itu, terapi PPOK diharapkan dapat mencegah progresivitas penyakit, mengurangi keluhan, meningkatkan tolerasi sewaktu menjalani aktivitas. Selain itu, terapi juga diharapkan dapat mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup.
    Menghentikan kebiasaan merokok merupakan upaya amat penting. Memang disadari tidalah mudah menghentikan kebiasaan merokok yang sudah lama. Perlu kesungguhan untuk melawan adiksi terhadap nikotin.
    Klinik hentik rokok dapat membantu penderita yang berniat menghentikan kebiasaan yang tidak sehat ini. Dukungan keluarga dan teman-teman sekerja juga akan membantu keberhasilan penderita menghentikan kebiasaan merokok.
    Batuk berdahak [FOto: Istimewa]Batuk berdahak [FOto: Istimewa]PPOK merupakan penyakit kronis , tetapi eksaserbasi akut dapat terjadi. Pada keadaan ini gejala sesak napas menghebat dan dapat disertai suara mengi seperti serangan asma. Eksaserbasi aku ini harus diatasi segera. Biasanya, penyebabnya adalah infeksi. Dosis obat pada keadaan ini biasanya perlu dinaikkan dan pemberian antibiotika perlu dipertimbangkan.
    Fisioterapi memang amat bermanfaat untuk mengurangi gejala PPOK, meningkatkan toleransi pada aktivitas jasmani, serta meningkatkan kualitas hidup. Penderita akan dilatih menjalani latihan pernapasan. Pada penderita PPOK yang gemuk, penurunan berat badan juga dapat membantu mengurangi gejala.

    Wiki: Penyakit paru obstruktif kronik
    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK, [[Chronic Obstructive Pulmonary Disease]]-COPD'), adalah penyakit paru kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Gangguan ini dapat dicegah dan dapat diobati. Penyebab utama PPOK adalah rokok, asap polusi dari pembakaran, dan partikel gas berbahaya.
    Gangguan aliran udara di dalam saluran napas disebabkan proses inflamasi paru yang menyebabkan terjadinya kombinasi penyakit saluran napas kecil ([[small airway disease]]) dan destruksi parenkim (emfisema).
    Gejala dan tanda PPOK, di antaranya adalah: sesak napas, batuk kronik, produksi sputum, dengan riwayat pajanan gas/prtikel berbahaya, disertai dengan pemeriksaan faal paru. Indikator diagnosis PPOK adalah penderita di atas usia 40 tahun, dengan sesak napas yang progresif, memburuk dengan aktivitas, persisten, batuk kronik, produksi sputum kronik, riwayat pajanan rokok, asap atau gas berbahaya di dalam lingkungan kerja atau rumah.
    Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) 2006, PPOK dibagi atas 4 derajat: 1. PPOK Ringan: biasanya tanpa gejala, faal paru VEP1/KVP < 70%
    2. PPOK Sedang: VEP1/KVP < 70%, atau 50% =< VEP1 < 80% prediksi
    3. PPOK Berat: VEP1/KVP < 70%, atau 30%=<VEP1<50% prediksi
    4. PPOK Sangat Berat: VEP1/KVP < 70% atau VEP1<30% atau VEP1<50% disertai gagal napas kronik
    Penatalaksanaan PPOK
    Tujuan Penatalaksanaan PPOK meliputi: 1. Mencegah progresivitas penyakit,
    2. Mengurangi gejala
    3. Meningkatkan toleransi Latihan
    4. mencegah dan mengobati komplikasi
    5. Mencegah dan mengobati eksaserbasi berulang
    6. Mencegah atau meminimalkan efek samping obat
    7. Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru
    8. Meningkatkan kualitas hidup penderita
    9. Menurunkan angka kematian
    Penatalaksanaan PPOK meliputi 4 program tatalaksana: 1. Evaluasi dan monitor penyakit
    2. Menurunkan faktor risiko
    3. tatalaksana PPOK stabil
    4. Tatalaksana PPOK eksaserbasi
    Penatalaksanaan menurut derajat PPOK di antaranya adalah
    1. Berhenti merokok/mencegah pajanan gas/partikel berbahaya
    2. Menghindari faktor pencetus
    3. Vaksinasi Influenza
    4. Rehabilitasi paru
    5. Pengobatan/medikamentosa di antaranya penggunaan bronkodilator kerja singkat (SABA, antikolinergik kerja singkat), penggunaan bronkodilator kerja lama (LABA, antikolinergik kerja lama), dan obat simtomatik. Pemberian kortikosteroid dapat digunakan berdasarkan derajat PPOK.
    6. Pada PPOK derajat sangat berat diberikan terapi oksigen
    7. Reduksi volume paru secara pembedahan (LVRS) atau endoskopi (transbronkial) (BLVR)
    Referensi:
    1. PPOK, pedoman praktis diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia, PDPI 2004

    Penyakit Paru Obstruktif Kronik Makin Jadi Ancaman

    Vera Farah Bararah - detikHealth

    img
    (dok ehow)
    Jakarta, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah gejala bronkitis dengan kategori yang lebih berat. PPOK makin menjadi ancaman dan WHO memprediksi pada 2020, PPOK akan menjadi penyebab
    kematian ke 3 di dunia.

    PPOK adalah penyakit pada organ paru karena adanya hambatan pada saluran pernafasan yang menahun. Biasanya ditandai dengan gejala batuk yang lebih dari 3 bulan, sesak nafas, berdahak, nafas bunyi, dan rasa tidak nyaman di dada.

    "Penyebab utama PPOK adalah asap rokok dan polusi udara," ujar Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K) FCCP yang merupakan dokter spesialis pulmonologi, pada acara Seminar Bronkitis Kronik dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di RS ASRI, Jakarta 4 Juli 2009.

    PPOK bisa berdampak pada gejala yang meningkat, fungsi paru yang menurun, kualitas hidup turun, dan bisa berdampak pada kematian dini.

    PPOK bukanlah penyakit menular dan biasanya dialami oleh orang dewasa. Anak-anak jarang menderita PPOK karena penyakit ini disebabkan oleh efek akumulasi dari zat-zat kimia yang berasal dari asap rokok, polusi udara, serta paparan dari bahan-bahan iritan ditempat kerja.

    PPOK juga bisa disebabkan oleh kurangnya enzim alpha-1 antitrypsin. Enzim ini berfungsi untuk menetralkan tripsin yang berasal dari rokok. Jika enzim ini rendah dan asupan rokok tinggi maka akan mengganggu sistem kerja enzim tersebut yang bisa mengakibatkan infeksi saluran pernafasan.

    "Untuk mengetahui PPOK bisa diukur dengan menggunakan spirometri untuk memastikan adanya penyempitan saluran napas dan menentukan beratnya penyempitan," ujar dokter lulusan spesialis paru FK-UI tahun 1971 ini.

    "Jika PPOK berlangsung lama maka bisa menyebabkan penyakit jantung, karena akan membebani jantung kanan yang berfungsi mengalirkan darah ke paru-paru, sehingga menimbulkan komplikasi," ujar Dr. Kasim Rasjidi Sp.PD-KKV, DTM&H, MCTM, MHA, SpJP, FIHA yang merupakan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS ASRI.

    Gejala yang ditimbulkan jika PPOK telah merusak jantung adalah rasa lelah, sesak nafas, batuk, nyeri dada, batuk berdarah, gejala syaraf seperti kurang konsentrasi, pelupa, depresi dan jantung berdebar-debar.

    "Pengobatan yang dilakukan adalah dengan berhenti merokok, rehabilitasi medik, memperbaiki pola pernafasan dengan mengetahui bagaimana mengeluarkan lendir yang efisien, meningkatkan daya tahan tubuh dengan parameter berjalan kaki selama 6 menit dan melihat berapa jarak yang bisa ditempuh, dan secara farmakologi," ujar Prof. dr. Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K) FCCP.

    "Jika batuk yang dialami sudah berat dan mengganggu waktu tidur, demam yang berlangsung lama, ada kronik pada paru, serta bronkitis yang berulang sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk memastikan terkena PPOK atau tidak," ujar dokter yang berpraktik di RS ASRI ini.

    Hal yang harus dilakukan untuk mencegahnya adalah menjaga udara dirumah tetap bersih, hindari tempat yang penuh asap rokok dan debu kendaraan, jangan memasang obat nyamuk didalam kamar, jaga kebugaran, dan berhentilah merokok.

    Komplikasi Kardiovaskuler pada Pria dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis

    Dibuat oleh: Rizki Astagini Putri,Modifikasi terakhir pada Tue 28 of Sep, 2010 [10:24 UTC]
    Abstrak          :

                PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya. Korpulmonale ialah perobahan struktur dan atau fungsi dari bilik kanan jantung akibat penyakit yang mengenai struktur atau fungsi paru atau pembuluh darahnya, tidak termasuk penyakit pan' yang disebabkan karena kelainan jantung kiri atau penyakit jantung kongenital. Mekanisme terjadinya kor pulmonale pada penderita PPOK terutama disebabkan oleh karena faktor-faktor hipoksia, asidosis dan vasokonstriksi. Pada pasien ini didapatkan riwayat batuk kronis, memiliki faktor resiko merokok sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Dari pemeriksaan didapatkan udema tungkai dan hepatomegali yang merupakan tanda – tanda adanya gagal jantung kanan.

    Keyword : kor pulmonale, ppok, paru

    Kasus              :

                OS datang ke poli RSUD Temanggung dengan keluhan batuk terus menerus. Keluhan dirasakan sejak 1 tahun yang lalu, sekitar 1 bulan yang lalu batuk dirasa makin parah. Batuk berdahak namun susah keluar. Biasanya OS minum obat dari warung setiap kali batuk kemudian sembuh, namun kali ini batuknya tidak sembuh – sembuh. Batuk terus kambuh – kambuhan. Kurang lebih 1 minggu sebelum masuk rumah sakit Os merasa nyeri pada bagian perut kanan bawah. OS merasa perut kanan atas teraba keras dan sakit apabila ditekan.OS khawatir akan kondisinya kemudian memeriksakan diri ke dokter. BAB dab BAK normal, OS merasa mudah leleah. Riwayat demam tidak ada, Tidak terdapat riwayat penurunan berat badan dan keringat pada malam hari juga tidak ada.
                Riwayat hipertensi, DM, asma, dan alergi tidak ada. Riwayat keluhan serupa di keluarga disangkal. Penderita memiliki riwayat merokok sejak lebih dari 30 tahun yang lalu.
                Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, kesadaran compos mentis. Tekanan darah 140/80 mmHg, nadi 96x/menit, respirasi 28x/mnt, suhu 35.8 derajat celcius. Pada pemeriksaan thorax terdengar bising gallop, ronkhi basah kasar, ronkhi basah halus, ekspirium diperpanjang dan wheezing. Suara dasar vesikuler menurun. Pada palpasi abdomen didapatkan nyeri tekan pada regio kanan atas, hepatomegali 4 cm dibawah arcus costa teraba keras, ujung tumpul dan berbenjol – benjol. Terdapat udem pada kedua ekstremitas bawah.

    Diagnosis        : Kor Pulmonale

    Terapi             :

    Pada pasien ini diberikan terapi Digoxin 0.25 mg 2x ½ tab, furosemid 1x40 mg, KSR 1x1, dan OBP 3x 1 sendok makan.

    Diskusi

                PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya.
               
    Pada bronkitis kronik terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan serta distorsi akibat fibrosis. Emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Secara anatomik dibedakan tiga jenis emfisema:
    • Emfisema sentriasinar, dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer, terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan merokok lama.
    • Emfisema panasinar (panlobuler), melibatkan seluruh alveoli secara merata dan terbanyak pada paru bagian bawah.
    • Emfisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran napas distal, duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura

                Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi, fibrosis, metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas.

                Korpulmonale ialah perobahan struktur dan atau fungsi dari bilik kanan jantung akibat penyakit yang mengenai struktur atau fungsi paru atau pembuluh darahnya, tidak termasuk penyakit pan' yang disebabkan karena kelainan jantung kiri atau penyakit jantung kongenital. Sesuai dengan pembatasan diatas maka untuk membuat diagnose korpulmonale tidak perlu adanya kegagalan jantung kanan sebagai mana anggapan dimasa yang lalu ataupun hipertropi bilik kanan jantung sesuatu hal yang sukar ditentukan secara klinis. Adanya pembesaran jantung karena dilatasi bilik
    kanan jantung akibat hipertensi pulmonalis sudah mencukupi.

                Mekanisme terjadinya kor pulmonale pada penderita PPOK terutama disebabkan oleh karena faktor-faktor hipoksia, asidosis dan vasokonstriksi. Sebagai penyebab utama timbulnya faktor-faktor tersebut diatas ialah karena adanya hipoventilasi alveolar yang berat. Hipoventlasi alveolar ini terutama disebabkan obstruksi bronkhioles, berkurangnya elastisitas jaringan paru. Apabila saturasi oksigen darah uteri kurang dari 80--85% pada waktu istirahat akan terjadi gangguan pada sirkulasi. Pada dasarnya pada penderita PPOK akan timbul :
    1. Hipoksia dan asidosis.
    2. Berkurangnya kapasitas "vasculer--bed" paru, hal ini bisa disebabkan kelainan anatomis dari vaskuler paru.

    Hipoksia akan mengakibatkan timbulnya polisitemia, hipervolemia dan meningkatnya cadiac output secara bersama-sama akan menyebabkan hipertensi pulmonalis. Hipertensi pulmonalis dapat mengakibatkan dilatasi atau hipertropi bilik kanan jantung secara berulang-ulang. Timbulnya keadaan ini diperberat dengan adanya polisitemia, hipervolemia dan meningkatnya cardiac output. Akhirnya akan timbul kegagalan jantung kanan. Dari patofrsiologi ini dapat dimengerti, bahwa yang memegang peranan panting yang mengakibatkan timbulnya kor pulmonale pada PPOK ialah faktor frsiologik yaitu hipoksia dan asidosis. Faktor kelainan anatomis dari vasculer--bed paru tidak begitu panting peranannya. Apabila faktor fisiologik ini dapat diperbaiki dengan jalan mengatasi hipoksianya maka penderita kor pulmonale dapat disembuhkan. Dengan kata lain kelainan bilik kanan jantung pada penderita kor pulmonale yang disebabkan oleh karena PPOK adalah bersifat reversibel.

    Mengingat kelainan bilik kanan pada kor pulmonale masih bersifat reversibel maka diagnose kor pulmonale perlu ditegakkan sedini mungkin untuk dapat diberikan pengobatan sebaik-baiknya sehingga kelainan dari jantung tidak bertambah luas dan bersifat menetap. Didalam menegakkan diagnose perlu dipikirkan dua hal :
    1. Kapan mulainya timbul kor pulmonale pada seorang penderita PPOK.
    2. Bagaimana membedakan tanda-tanda klinis yang disebabkan kor pulmonale dengan tanda-tanda klinis yang ditimbulkan oleh PPOK. Menegakkan diagnose kor pulmonale yang disebabkan oleh PPOK lebih sulit dari menegakkan diagnose kor pulmonale yang disebabkan oleh penyakit paru yang lain seperti difuse pulmonary fibrosis,primary pulmonary hypertension. Dengan adanya emfisema paru pada penderita PPOK yang mengalami komplikasi kor pulmonale maka gejalagejala yang ditimbulkan oleh kor pulmonale akan menjadi kabur dengan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh emfisema paru sendiri.

    Anamnese :
    1.      Batuk-batuk lama dengan mengeluarkan dahak banyak, infeksi paru yang berulang-ulang bisa ditimbulkan oleh kor pulmonale atau PPOK tanpa kor pulmonale.
    2.      Dyspnea bisa disebabkan oleh PPOK atau/dan kor pulmonale. Apabila ada kor pulmonale "dyspnea" lebih berat ditambah dengan "orthopnea:

    Pemeriksaan fisik :
    1.      IVP akan meninggi apabila telah terjadi kegagalan jantung kanan. Peninggian IVP ini dapat terjadi pada penderita PPOK walaupun komplikasi kor pulmonale belum terjadi, peninggian hanya terjadi selama periode ekspirasi, pada waktu periode inspirasi vena yugularis menjadi kollaps. Pada PPOK yang belum disertai kegagalan jantung, carian akan terlihat pergerakan dari permukaan vena jugularis yang berlebihan "Hepatojugular reflux" positif apabila telah terjadi kegagalan jantung kanan.
    2.      Udema yang. menyolok pada tungkai bawah merupakan tanda dari kegagalan jantung kanan. Pada penderita PPOK walaupun belum terjadi komplikasi kor pulmonale sering juga ditemukan udema pada tungkai bawah walaupun tidak begitu menyolok.
    3.      Sianosis bisa ditemukan pada penderita PPOK saja, tetapi apabila disertai dengan kor pulmonale, sianosis akan lebih menonjol.
    4.      Hepatomegali adalah salah satu gejala dari kegagalan jantung kanan. Pada penderita PPOK tanpa kor pulmonale kadang-kadang hepar teraba juga. Hal ini disebabkan karena diafragma letak rendah biasanya kurang dari 12 cm di bawah arkus kosta.
    5.      Pada perkusi batas-batas jantung susah ditenukan karena ada emfisema paru. Auskultasi bunyi dan bising jantung yang teliti sangat membantu untuk mengetahui ada tidaknya hipertensi pulmonale. Adanya emfisema paru mengakibatkan penilaian dari auskultasi menjadi kabur. Suara jantung terdengar lemah, apabila telah ada hipertensi pulmonalis suara p akan mengeras.

    Pemeriksaan laboratorium

    Pemeriksaan analisa gas darah. Apabila PaO2 kurang dari 60 mmHg, PaCO2 lebih dari 50 mmHg dan saturasi 02 arteri kurang dari 85 mmHg dapat diduga kemungkinan kor pulmonale telah ada.

    Pemeriksaan radiologik
    1.      Emfisema paru menyebabkan pembesaran jantung tidak selalu tampak pada foto Ro toraks PA maupun lateral. Bila jantung telah sangat membesar barulah tampak pada foto Ro torak kemungkinan akan dapat dilihat adanya pembesaran dari jantung.
    2.      Kelainan pembuluh darah paru menunjukkan adanya hipertensi pulmonalis. Pada foto Ro terlihat berupa pembesaran arteri pulmonalis dan cabang-cabang utamanya, pembuluh-pembuluh darah perifer tampak mengecil.

    Pemeriksaan elektrokardiogram

    Pemeriksaan EKG pada penderita kor pulmonale perlu diingat
    hal-hal seperti dibawah ini :
    1.      Emfisema paru sendiri dapat menimbulkan perubahan - perubahan pada pemeriksaan EKG.
    2.      Perubahan pada EKG yang ditimbulkan oleh emfisema paru mengaburkan penilaian perubahan EKG yang disebabkan hipertropi bilik kanan jantung.
    3.      EKG bisa normal walaupun diagnose kor pulmonale telah jelas.
    4.      Emfisema paru dan hipertropi bilik kanan jantung secara bersama-sama bisa menimbulkan perubahan pada EKG. Hal ini kadang-kadang dapat menimbulkan kesalahan penilaian.

    Penatalaksanaan kor pulmonale

    Penanggulangan kor pulmonale ditujukan terhadap dua
    faktor: (1) Terhadap kegagalan respirasi. (2) Terhadap kega-
    galan jantung kanan.
    1.      Terapi terhadap kegagalan respirasi.
    Terjadinya kor pulmonale pada penderita PPOK terutama disebabkan oleh karena faktor hipoksia, asidosis dan vasokontriksi. Untuk mengatasi faktor-faktor tersebut diatas perlu diambil tindakan berikut :
    a)      Menjauhkan bahan-bahan yang dapat menimbulkan iritasi pada saluran nafas.
    b)      Mempertahankan intake cairanyang adekuat.
    c)      Mengusahakan supaya jalan nafas tetap terbuka dengan jalan memberikan obat-obatan (bronkhodilator, mukolitik) postural drainase, pengisapan lendir dari jalan nafas dll.
    d)     Pemberian 02. Terapi 02 pada penderita kor pulmonale yang disebabkan oleh PPOK harus berhati-hati oleh karena dapat mengakibatkan retensi CO2. Oleh karena itu pemeriksaan analisa gas darah yang berulang-ulang sangat penting. Biasanya 02 diberikan dengan konsentrasi rendah.
    e)      Memberantas infeksi saluran nafas. Dengan pemberian antibiotik yang sesuai dan adekuat

    2.      Terapi terhadap kegagalan jantung kanan

    a)      Pemberian digitalis pada kegagalan jantung kanan karena kor pulmonale masih diperdebatkan . Ada yang berpenda pat dengan pemberian digitalis dosis rendah akan memperbaiki output ventrikel kanan, tetapi sebaliknya banyak peneliti yang berpendapat bahwa pemberian digitalis mengakibatkan keadaan menjadi lebih buruk. Disamping itu pemberian digitalis pada penderita kegagalan jantung kanan karena kor pulmonale harus sangat berhati-hati oleh karena penderita lebih mudah mengalami keracunan digitalis.
    b)      Pemberian deuretika memberikan efek yang baik oleh karena dapat mengurangi kongesti paru dan udema perifer sehingga dapat mengurangi beban jantung kanan dan juga memperbaiki oksigenisasi.
    c)      Phlebotomy kadang-kadang dianjurkan terutama jika terdapat polisitemia yang hebat. Darah dapat dikeluarkan sebanyak 250 -- 500 cc.

    Prognose kor pulmonale yang disebabkan oleh PPOK lebih baik dari prognose kor pulmonale yang disebabkan oleh penyakit paru lain seperti "restrictive pulmonary disease", kelainan pembuluh darah paru. Forrer mengatakan penderita kor pulmonale mash dapat hidup antara 5 sampai 17 tahun setelah serangan pertama kegagalan jantung kanan, asalkan mendapat pengobatan yang baik. Padmavati dkk di India mendapatkan angka antara 14 tahun. Sadouls di Perancis mendapatkan angka 10 sampai 12 tahun.
               

    Kesimpulan    :

    PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya
    Diantara penyakit paru menahun yang paling sering menimbulkan komplikasi kor pulmonale ialah PPOK. Faktor terpenting didalam mekanisme timbulnya kor pulmonale pada penderita PPOK ialah faktor fisiologik yaitu hipoksia, asidosis dan vasokonstriksi. Kor pulmonale bersifat reversibel. Dengan memperbaiki keadaan hipoksia dan asidosis maka kelainan bilik kanan jantung dapat sembuh kembali


    Referensi        :

    Karnen B, Soeparman, dkk, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, edisi 3, FKUI, Jakarta, 1996

    R. Amirullah. 2003. Komplikasi Kardiovaskuler pada Pria dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Diakses dari : http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/07_KomplikasiKardiovascularpadaPenyakitparu.pdf/07_KomplikasiKardiovascularpadaPenyakitparu.html

    W.M. Lorraine, Penyakit Pernafasan Obstruktif, dalam A.P Sylvia, dkk, Patofisiologi, Jilid II, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995, hal 689-691.

    Penulis
    Rizki Astagini Putri. Bagian Profesi Pendidikan Dokter. Ilmu Penyakit Dalam RSUD Temanggung. 2010

    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), adalah penyakit paru kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Gangguan ini dapat dicegah dan dapat diobati. Penyebab utama PPOK adalah rokok, asap polusi dari pembakaran, dan partikel gas berbahaya.
    Penyakit Paru Obstruktif Kronik
    Dasar Kelainan : Kelainan patologis pada jaringan paru yang mengakibatkan batuk, produksi sputum meningkat, aliran udara pernapasan terhambat, dan gangguan pertukaran gas yang selanjutnya mengakibatkan hiposemi, hipertensi pulmonal sampai kor pulmonale.
    I.DIAGNOSIS
    A.Keluhan Pokok
    • Perokok
    • Batuk kronis, berdahak
    • Sesak napas
    B.Tanda Penting
    • Ronki kering/basah
    • Suara pernapasan melemah
    • Waktu ekspirasi memanjang
    • Udara pernapasan kurang.
    C.Pemeriksaan Laboratorium
    Foto dada
    D.Pemeriksaan Khusus -
    II.KOMPLIKASI
    1.Bronkitis akut
    2.Pneumoni
    3.Emboli paru
    4.Kor pulmonale
    5.Pneumotoraks
    6.Hemoptisis.
    III.PENATALAKSANAAN
    A.Terapi Umum
    1.Istirahat
    • Rokok di hentikan
    • Pendidikan tentang penyakit yang di deritanya
    • Fisioterapi dada
    2.Diet
    3.Medikamentosa
    Obat pertama :
    a.Bronkodilator
    • Teofilin
    b.Antikolinergik
    • Ipratropium bromide (Atrovent)
    c.β₂ agonist :
    • Albuterol
    • Bitolterol
    • Isoproterenol
    • Terbutalin
    d.Atimikroba
    • Amoksisilin, 3 x (o,5-1) gr/hari.
    • Kotrimoksazol (Bactrim, Septrim, Spectrem dll), 7-10 hari.
    e.Mukolitik
    f.Kortikustiroid pada keadaan eksarsebrasi akut.
    Obat alternative : -
    B.Terapi Komplikasi -
    IV.PROGNOSIS

    • Prognosis buruk
    • Bila FEV1 1,4 liter dapat hidup selama 10 tahun, semakin kecil FEV1, masa hidup semakin pendek.
    • Lebih buruk bila di sertai kor pulmonale
    • Bentuk bronchitis kronis asmatika lebih baik dari pada bentuk empisematous.

    Artikel Kedokteran yang Berkaitan:





    Tidak ada komentar: